Lawang Sewu adalah sebuah bangunan ikonik di pusat Kota Semarang yang berlokasi di Jalan Pemuda No. 160, Semarang. Lawang Sewu adalah gedung bersejarah milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan dikelola oleh PT Kereta Api Pariwisata. Pada awalnya, Lawang Sewu adalah gedung Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) (https://kaiwisata.id/Lawang-Sewu). Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m2 dengan arsitek yang berbeda-beda di bawah naungan Cosman Citroen, sebuah firma arsitektur yang didirikan oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag. Meskipun demikian, bangunan Lawang Sewu bermula dari kantor percetakan karcis kereta api yang dirancang oleh Ir. P. de Reiu pada 1900. Bangunan ini menjadi Gedung C. Setelah Ir. P. de Rieu meninggal dunia, Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag ditunjuk sebagai arsitek untuk melakukan pembangunan Lawang Sewu. Mereka berdua membangun Gedung A selama 1904-1907 dan Gedung B selama periode 1916-1918. Sementara Gedung D (ruang penjaga) dan E dibangun oleh Thomas Karsten. Gaya arsitektur Lawang Sewu adalah Gaya Hindia Baru dengan ciri dominan berupa elemen lengkung dan sederhana. Bangunan Lawang Sewu juga didesain menyerupai huruf L serta memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak sebagai sistem sirkulasi udara. Karena jumlah pintunya yang banyak maka masyarakat menamainya dengan Lawang Sewu yang berarti seribu pintu (https://kemenparekraf.go.id/hasil-pencarian/siaran-pers-menggali-jejak-sejarah-gedung-lawang-sewu-semarang).

 

Lawang Sewu Semarang (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024)

 

Cetak Biru Gedung B, Gedung Kantor Pusat NISM oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag pada 1902 (Sumber:  https://commons.wikimedia.org/wiki/File: Blueprints_for_Lawang_Sewu.jpg)

 

Lawang Sewu adalah Kantor Pusat NISM, salah satu perusahaan kereta api swasta Hindia-Belanda yang resmi didirikan pada 27 Agustus 1863. Akta pendiriannya disahkan oleh notaris Amya Esser di Amsterdam dengan W. Poolman, sebagai pengelola utama, bersama-sama dengan C. van Heukelom dan E.H.’s Jacob (“Nederland”, Bataviasch Handelsblad, 21 Oktober 1863: 2). Sebelumnya, W. Poolman adalah direktur Nederlandsch Handel Maatschappij. Melalui W. Poolman, NISM mendapatkan konsesi dari pemerintah Hindia-Belanda selama 99 tahun, untuk mengembangkan jalur kereta api Semarang-Vorstenlanden. Untuk mengerjakan proyek besar tersebut, NISM mendatangkan para kuli Tionghoa dari Kalimantan dan Bangka serta orang-orang Madura sebagai kuli kontrak. Jalur utama adalah Semarang-Tanggung yang dimulai pada 17 Maret 1864. Lahan yang diperoleh adalah tanah pemerintah (gouvernement grond) yang berupa rawa-rawa lalu ditinggikan (“Semarang”, Java Bode, 23 Maret 1864: 2). Oleh karena NISM mengerjakan proyek Semarang-Vorstenlanden, NISM harus berhadapan dengan beberapa jenis kepemilikan tanah, yaitu tanah pemerintah, tanah raja-raja (Vorstendomein), dan tanah bebas. Sejak 18 Maret 1864, NISM mengerjakan proyek jalur kereta api dari Semarang melalui Purwodadi dan Surakarta untuk selanjutnya melalui Klaten menuju Yogyakarta (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 113). Semula konsesi proyek ini berlaku antara W. Poolman selaku individu dengan pemerintah. Namun, pada 10 April 1869, ketika pembangunan jalur telah mencapai Vorstenlanden, status konsesi diubah dari individu kepada NISM selaku perusahaan (Staatsblad van Nederlandsch-Indie over het jaar 1869, No. 52).      

Semarang, tidak hanya menjadi awal proyek NISM, tetapi juga menjadi pusat aktivitas dan administrasi NISM. Bahkan, NISM membangun stasiun pertama mereka di Semarang dan menjadi stasiun pertama di Hindia-Belanda. Stasiun tersebut berada di dekat pelabuhan, tepatnya di wilayah Bandarharjo. Stasiun tersebut diresmikan pada 19 Juli 1868. Selain stasiun, perkantoran dan bengkel juga berada di kawasan ini (“De spoorwegen in Indie”, Java Bode, 2 Juli 1864: 2). Namun, karena stasiun ini sering terkena banjir akibat rob, NISM mencari lahan untuk stasiun baru, yaitu di wilayah Tawang. Di sana, NISM membangun sebuah stasiun baru yang lebih besar. Stasiun Tawang dibangun pada 29 April 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Sementara itu, proyek Semarang-Vorstenlanden oleh NISM telah selesai pada akhir abad ke-19.

 

Kantor Pusat NISM di Semarang sekitar 1915  (Sumber: “Kantoor van de Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (rechts) te Semarang”, KITLV 117572).

 

Gedung Lawang Sewu adalah kantor pusat NISM yang baru, yang mulai dibangun pada awal abad ke-20. Desain bangunannya memadukan antara tradisional dan modern. Selain desain bangunannya yang unik, Lawang Sewu memiliki ornamen kaca patri karya J.L. Schouten. Kaca patri tersebut dibagi menjadi bagian kiri, kanan, tengah atas, dan tengah bawah. Kaca patri pada bagian sebelah kiri ini terdapat gambar dedaunan. Gambar dedaunan tersebut menggambarkan kemakmuran tanah di Pulau Jawa beserta keindahan alamnya. Lukisan kaca patri tersebut bermakna keragaman flora dan fauna di Pulau Jawa yang dieksploitasi dan diangkut menggunakan kereta api menuju pelabuhan dan dijual untuk kepentingan Belanda. Lukisan yang terdapat di kaca patri bagian kanan menggambarkan keadaan kota Semarang dan Batavia (yang kini menjadi Jakarta) pada saat itu. Kaca patri tengah atas adalah gambaran kota Semarang dan Batavia sebagai pintu maritim menuju Pulau Jawa. Kedua kota tersebut merupakan pelabuhan besar yang menjadi pintu utama untuk aktivitas maritim bagi kepentingan Belanda. Kaca patri tengah bawah terlihat adanya lukisan dua orang wanita. Dua orang wanita tersebut merupakan sosok Dewi Fortuna yakni dewi keberuntungan dalam mitologi Romawi dan Dewi Venus yakni dewi kecantikan dan cinta kasih dalam mitologi yang sama. Lukisan tersebut menggambarkan bahwa Belanda selalu diberkahi keberuntungan dan diberikan kejayaan selama berada di bumi Nusantara terutama perihal kereta api di Pulau Jawa (https://www.goodnewsfromindonesia.id/ 2019/09/25/makna-lukisan-kaca-patri-di-lawang-sewu). 

 

Para wisatawan berfoto dengan latar belakang kaca patri yang indah

(Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024)

 

Setelah Jepang menduduki Hindia-Belanda pada 1942, tentara Jepang mengambil alih Lawang Sewu. Gedung ini digunakan Jepang sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Kantor Jawatan Transportasi). Ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di dalamnya (https://www.kompas.com/stori/read/2022/01/18/ 080000379/sejarah-lawang-sewu?page=2). Saat Pertempuran Lima Hari di Semarang berlangsung pada Oktober 1945, Lawang Sewu menjadi Markas Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Ketika perang berkecamuk dan Jepang mampu menguasai Lawang Sewu kembali, para anggota AMKA yang tidak memiliki pengalaman bertempur gugur. Di sana, ditemukan 19 orang anggota AMKA yang gugur setelah gedung itu jatuh di tangan Jepang. Pertempuran terjadi dengan banyak pejuang Indonesia gugur. Korban dari masyarakat Semarang juga terlihat di sepanjang Jalan Kalisari dan Jalan Poncol (Moehkardi 2021: 98-99). Saat itu, Badan Keamanan Rakyat (BKR) mengambil alih kompleks Lawang Sewu dan dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia (DKARI). Ketika Semarang direbut kembali oleh Belanda pada 1945, Gedung Lawang Sewu digunakan sebagai markas tentara. Pasukan Belanda menggunakan terowongan yang mengarah ke gedung A untuk menyelinap ke kota. Setelah pengakuan kedaulatan RI pada 1949,  Lawang Sewu digunakan sebagai markas Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Jawa Tengah (yang kemudian menjadi Kodam IV Diponegoro (https://www.kompas.com/stori/read/2022/01 /18/080000379/sejarah-lawang-sewu?page=2). Memasuki era Orde Baru, Lawang Sewu menjadi gedung yang tidak terawat. Pada 1950, Kodam IV Diponegoro telah memiliki markas sendiri menempati eks Gedung Pengadilan Tinggi untuk orang Eropa (Raad van Justitie) di seberang Lawang Sewu, yang kemudian menjadi Museum Mandala Bhakti (https://www.goodnewsfromindonesia.id/ 2023/03/24/museum-mandala-bhakti).

Pada 1994, Lawang Sewu dikembalikan kepada Perusahaan Kereta Api (Perumka) yang kemudian berganti nama menjadi PT Kereta Api Indonesia. Selanjutnya, pada 2009, PT KAI melakukan restorasi Gedung Lawang Sewu dan purnapugar gedung ini sebagai cagar budaya dilakukan pada 5 Juli 2011 (https://kaiwisata.id/Lawang-Sewu). Purna-Pugar Cagar Budaya Lawang Sewu diresmikan oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono. Namun, pada saat itu hanya bangunan B yang dapat dikunjungi. Ia berharap bahwa peresmian ini menjadi daya tarik utama dalam menyukseskan program pariwisata pemerintah Jawa Tengah pada 2013. Gedung B direncanakan untuk dijadikan perkantoran, pujasera, dan pusat kebugaran (https://www.antaranews.com/berita/265948/ani-yudhoyono-resmikan-renovasi-lawang-sewu). Pada akhir 2013, Pemerintah Kota Semarang mengumumkan rencana untuk menghilangkan “citra seram” bangunan itu untuk menarik lebih banyak pengunjung. Hal ini dilakukan dengan cara menata kembali kawasan untuk kegiatan sosial dan budaya, beserta renovasi lanjutan bangunan. Sejak diresmikan, Lawang Sewu menarik rata-rata 1.000 pengunjung setiap hari (https://tirto.id/sejarah-lawang-sewu-kisah-misteri-benarkah -ada-seribu-pintu-gBRz#google_vignette).

Saat ini Gedung Lawang Sewu dimanfaatkan sebagai museum yang menyajikan beragam koleksi dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia. Koleksi yang dipamerkan antara lain: koleksi Alkmaar, mesin Edmonson, Mesin Hitung, Mesin Tik, Replika Lokomotif Uap, Surat Berharga, dan lain-lain. Lawang Sewu menyajikan proses pemugaran gedung Lawang Sewu yang terdiri dari foto, video, dan material restorasi. Mendekati pintu keluar, terdapat pula perpustakaan yang berisi buku-buku tentang kereta api. Selain menjadi tempat wisata sejarah, Gedung Lawang Sewu juga dapat disewa untuk kegiatan pameran, ruang pertemuan, pemotretan, shooting, pesta pernikahan, festival, bazar, pentas seni, dan workshop.

Selain arsitektur, daya tarik Lawang Sewu adalah wisata bawah tanah. Setelah ditutup selama 10 tahun, pada 2024 basement Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu atau Lawang Sewu Kelderverkening Basement dibuka sebagai paket wisata. Pembukaan ruang bawah tanah telah membuat para pengunjung baik yang berasal dari Semarang, luar Semarang, maupun asing semakin penasaran. Sampai dengan Desember 2024, Lawang Sewu Kelderverkening Basement telah menarik 4.000 wisatawan (Haq 2024). Wisatawan dapat menyusuri ruang bawah tanah yang berbentuk lorong dengan membayar tiket sebesar Rp50.000,00. Dalam rangka libur Natal dan Tahun Baru 2024, tepatnya sejak 1 Desember, pemerintah memberikan diskon sebesar 50%, sehingga para wisatawan cukup membayar Rp25.000,00. Wisata menyusuri Kelderverkening Basement memberikan tantangan sendiri bagi para wisatawan.

 

Para wisatawan menggunakan peralatan keselamatan menjelang tour bawah tanah (Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024)

 

Meskipun harus menyusuri terowongan bawah tanah yang dulu juga digunakan sebagai drainase sehingga sampai saat ini sering kali masih tergenang air ketika hujan, para pengunjung tidak perlu khawatir. Hal itu karena biaya masuk itu juga sudah termasuk perlengkapan safety, seperti rompi yang menyala, helm proyek, sepatu boots, serta satu senter untuk pengunjung yang berjalan paling belakang. Pengelola juga membatasi usia pengunjung, yaitu di bawah 60 tahun dan juga tidak mengidap penyakit rawan seperti jantung, hipertensi, dan lain-lain. Ketika memilih paket wisata tersebut, para pengunjung akan dibatasi, yaitu maksimal delapan orang dengan seorang tour guide.