Museum Kereta Api Ambarawa berlokasi di Jalan Stasiun Ambarawa, Panjang, Ambarawa Kabupaten Semarang. Museum Kereta Api Ambarawa adalah bekas stasiun kereta api yang telah dialihfungsikan menjadi sebuah museum serta merupakan museum perkeretaapian pertama di Indonesia. Museum ini secara administratif terletak di Panjang, Ambarawa, Semarang dan termasuk dalam Daerah Operasi IV Semarang. Museum ini dikelola oleh Kereta Api Indonesia Wisata bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Museum Kereta Api Indonesia awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I. Stasiun ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang diresmikan pada 21 Mei 1873 bersamaan dengan pembukaan lintas Kedungjati-Ambarawa (https://kai wisata.id/Museum-Ambarawa)..

Bangunan utama (stasiun) merupakan stasiun yang pada mulanya berupa bangunan berkanopi yang dibangun dari kayu jati. Sejak 1907, stasiun ini menggunakan arsitektur yang mirip dengan Stasiun Kedungjati dan Stasiun Purwosari. Ukuran bangunan stasiun ini lebih besar daripada Kedungjati dan Purwosari karena bentang atapnya mencapai 21,75 meter sementara Kedungjati 14,65 meter dan Purwosari 13 meter. Bangunan ini terdiri atas kanopi yang memayungi bangunan utama serta jalur yang mengapitnya. Nama Willem I berasal dari nama benteng yang letaknya tidak jauh dari kompleks stasiun ini, yaitu Benteng Willem I yang dikenal juga sebagai “Benteng Pendhem.” Penamaan Willem I karena dibangun untuk menghargai jasa-jasa Raja Belanda yang bertakhta pada saat itu, yaitu Raja Willem I dari Belanda (https://kai wisata.id/Museum-Ambarawa).

 

Stasiun Ambarawa yang telah berubah menjadi Museum Ambarawa masa kini

(Sumber: Dokumentasi Peneliti, Desember 2024)

 

Stasiun kereta api di Benteng Willem I di Ambarawa, selatan Semarang di Jawa Tengah sekitar 1890-1906 (Sumber: “Treinstation bij Fort Willem I te Ambarawa, ten zuiden van Semarang in Midden-Java”, KITLV, 1400018). 

 

Museum Kereta Api Ambarawa menjadi saksi kejayaan kereta api di Hindia-Belanda. Museum Ambarawa yang bermula dari Stasiun Willem I adalah bagian dari pembangunan jalur Semarang-Surakarta-Yogyakarta pada 1864 sampai dengan 1873. Peletakan batu pertama proyek besar tersebut dilakukan pada 18 Maret 1864. Sejak April 1864 pula, NISM membuka kantor pusat perusahaan cabang untuk Hindia-Belanda di Semarang. Melalui kantor ini, NISM mulai menjalankan proyek besar mereka di Jawa (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 113-114). Awal pembangunan jalur kereta api di Semarang tersebut, juga menandai pembangunan stasiun pertama di Hindia-Belanda, yaitu Stasiun Tambaksari di Semarang (“De Spoorwagen in Indies”, Java Bode, 2 Juli 1864). Stasiun pertama di Hindia-Belanda ini pertama kali diresmikan pada 19 Juli 1868 dengan dilengkapi ruang perkantoran, pelayanan tiket, ruang tunggu sesuai kelas, dan pertokoan. Namun, karena sering terkena banjir saat rob dan musim hujan, stasiun ini ditutup setelah enam tahun beroperasi. Sebagai gantinya, NISM membuka sebuah stasiun baru di Tawang, Semarang yang mulai dibangun pada 29 April 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Dengan demikian, dilakukan pemindahan dari Stasiun Tambaksari ke Stasiun Tawang resmi tidak digunakan lagi (Joe 2004: 216).  

 

Stasiun Kereta Api Tawang, Semarang pada sekitar 1908-1930

(Sumber: “Semarang, Station N.I.S. Tawang”, KITLV 1405064)

 

Peta Jalur Kereta Api Semarang-Vorstenlanden sekitar 1869 (Sumber: “Kaart van den spoorweg van Samarang naar de Vorstenlanden”, KITLV, shelfmark KK 032-05-06)

 

Beberapa tahun sebelum Stasiun Tawang berdiri, pada Juni 1864, saat mengunjungi proyek reklamasi muara Sungai Terboyo, Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele meminta agar mulai dilakukan proyek perluasan jalur kereta api dari pelabuhan Semarang ke wilayah yang lebih luas melalui konsesi. Jalur yang dimaksud adalah jalur Seksi I, yang menghubungkan jalur dari Semarang ke Tanggung hingga ke Kedungjati yang telah masuk di wilayah Afdeeling Purwodadi (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 116). Selain itu, dilakukan pula pengembangan dua seksi lainnya, yaitu Kedungjati-Solo (Seksi 2) dan Solo-Yogyakarta (Seksi 3). Sebagai pengembangan konsesi Semarang-Yogyakarta melalui Solo, dibangun juga jalur baru (Seksi 4), yaitu Kedungjati-Tempuran. Oleh karena Kedungjati-Tempuran dianggap terlalu dekat, oleh pemerintah kolonial, jalur ini dilanjutkan hingga ke Stasiun Willem I di Ambarawa melewati Bawen, Merakmati, dan Ungaran (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 135 dan 163).

Konsesi tersebut juga menjadi jalan keluar dari krisis keuangan yang dialami oleh NISM. Pendanaan oleh pemerintah Hindia-Belanda melalui proyek perluasan jalur Semarang-Vorstenlanden tersebut, di satu sisi telah menyelamatkan NISM sebagai perusahaan kereta api pertama di Hindia-Belanda. Di sisi lain, proyek tersebut telah melancarkan proyek Staatsspoorwegen sebagai perusahaan kereta api negara yang sedang menjalankan proyek jalur Batavia-Surabaya via Yogyakarta untuk “menumpang” pada jalur Yogyakarta-Surakarta yang dijalankan oleh NISM (Wardoyo 2012 via Wardoyo 2022: 35). Sebenarnya, NISM bukanlah satu-satunya perusahaan yang mendapatkan konsesi dan beroperasi di Hindia-Belanda. Setidaknya, terdapat 23 perusahaan kereta api yang beroperasi di Jawa, Sumatra, Madura, dan Sulawesi. Mayoritas perusahaan tersebut beroperasi di Jawa, sedangkan sisanya empat perusahaan beroperasi di Sumatera, sementara satu perusahaan beroperasi di Sulawesi dan Kalimantan (Tim Telaga Bakti Nusantara 1997: 83-84). NISM ada di antara 11 perusahaan kereta api swasta Belanda yang mendapatkan konsesi dengan landasan Besluit pada 28 Agustus 1862 No. 1 yang kemudian direvisi pada 1862. Jangka waktu konsesi adalah 99 tahun, dari 1872 sampai dengan 1971. Adapun perusahaan kereta api lainnya yang juga mendapatkan konsesi adalah Semarang-Joana SM, Serajudal SM, Oost-Java SM, Mojokerto SM, Kediri SM, Malang SM, Probolinggo SM, Pasuruan SM, Madura SM, dan Deli Serdang Maatschappij (DSM) (Regerings almanak voor Nederlandsch-Indie 1909 Vol. I: 415).

Selain itu, terdapat pula pembagian kelas jalur kereta api dan trem yang terbagi menjadi dua kelas, yaitu Kelas 1 dan Kelas 2. Kelas 1 adalah jalur untuk kereta api dengan kecepatan 60 km per jam atau lebih, sedangkan Kelas 2 adalah jalur untuk kereta api dengan kecepatan antara 20-60 km per jam (Wardoyo 2022: 38). NISM termasuk dalam perusahaan yang berada di jalur Kelas 1 dengan jalur Yogyakarta-Vorstenlanden bersama dengan DSM dengan jalur Belawan-Tanjung Balai. Untuk perusahaan dan jalur kereta api Kelas 2, terdapat 11 perusahaan, salah satunya adalah NISMC untuk jalur Yogyakarta-Secang-Parakan, Yogyakarta-Pundung-Semarang-Gambrengan-Boyolali-Solo-Baturetno, Gundih-Surabaya, Bojonegoro-Jatiraga, Babat-Merak Urak, Soemari-Gresik-Kandangan (Wasino, dkk. 2014: 130-132).    

 

Barak infanteri di Banjoe Biroe dekat Benteng Willem I sekitar 1880

(Sumber: “Infanteriekazerne te Banjoe Biroe bij fort Willem I bij Ambarawa”, KITLV 106401)

 

Secara khusus, NISM juga diberi tugas oleh Pemerintah Kolonial untuk membangun jalur kereta api baru yang menghubungkan Semarang dengan Benteng Willem I di Ambarawa, agar mobilisasi tentara dan logistik Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) berjalan lancar. Pembangunan jalur ini satu paket dengan jalur kereta api Semarang NIS-Gundih-Solo Balapan-Lempuyangan. Pada Januari 1866, proyek tersebut mulai dilakukan dengan membangun barak-barak tempat tidur bagi para kuli di Tuntang, Karanglor, dan Tempuran. Fokus utama adalah fondasi jembatan di atas kali Tuntang yang dianggap paling sulit dan strategis. Namun, proyek tersebut terkendala musim hujan dan kekurangan tenaga kerja karena pemusatan jalur Semarang-Tanggung-Kedungjati sehingga pembangunan terowongan ditunda meskipun fondasi jembatan telah selesai. Bahkan, teknisi NISM sempat mengajukan perubahan jalur dan menghindari terowongan mengingat kondisi yang sulit. Mereka juga menulis surat kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di Batavia mengenai efektivitas perpanjangan jalur Tempuran-Willem I untuk kepentingan ekonomi, selain faktor strategis. Hal itu karena Benteng Willem I telah mengalami rusak berat dan tidak lagi efektif untuk kepentingan pertahanan akibat dari gempa pada Mei 1965  (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 165).

 

Pembangunan Jembatan Kereta Api melintasi Toentang ke Kedoengdjati sebagai bagian dari proyek jalur dari Semarang-Vorstenlanden sekitar 1868-1870 (Sumber: “Aanleg van de spoorbrug over de Toentang bij Kedoengdjati in de lijn van Semarang naar de Vorstenlanden”, KITLV 106170)

 

Namun, permintaan tersebut tidak dikabulkan oleh Gubernur Jenderal. Bahkan, pemerintah kolonial meminta jalur kereta api khusus yang disambungkan ke Benteng Willem I dan barak militer di Banyubiru. Namun, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh NISM karena mereka memiliki ikatan kontrak konsesi dengan perusahaan perkebunan. Akhirnya, pemerintah mengambil jalan tengah, yaitu tidak lagi ke jalur Benteng Willem I, namun di pusat kota Ambarawa. Hal ini dengan pertimbangan bahwa selain kepentingan perkebunan, masyarakat juga dapat menikmati fasilitas transportasi tersebut (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 166). Oleh karena itu, pembuatan jalur kereta api dari Tuntang menuju Ambarawa kembali dilakukan dengan melakukan pengeprasan perbukitan. Jalur kereta api ini berujung di Willem I supaya akses militer dari Benteng ke Stasiun Willem I menjadi lebih mudah (Woodbury 1994: 113 via Krisprantono 2015: I-35).

 

Stasiun Tuntang sekitar 1910 (Sumber: “Stationsemplacement te Toentang in de buurt van Salatiga ten zuiden van Semarang aan de zijlijn van Kedoengdjati naar Willem I met rechts de brug over de Toentang”, KITLV 2430).

 

Setelah NISM sukses membangun jalur Semarang-Tanggoeng yang selesai pada 10 Agustus 1867, maka pada awal 1869, selain memperpanjang jalurnya menuju Gundih, NISM juga membangun jalur baru menuju Bringin dan selanjutnya diperpanjang menuju Ambarawa sesuai kesepakatan antara pemerintah kolonial Hindia-Belanda dengan NISM. Pada 1872, jalur Samarang-Vorstenlanden dan Kedungjati-Ambarawa juga telah selesai dibangun sebagai akhir jalur yang disepakati konsesi. Setelah jalur selesai, NISM mulai memilih lokasi yang akan digunakan sebagai pembangunan stasiun di Ambarawa. Lokasi yang dipilih adalah lahan pemerintah dan pembangunan dimulai pada akhir 1872. Namun, karena musim hujan pembangunan ditunda sampai dengan Mei 1973. Pada 21 Mei 1873, peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur Jenderal Loudon dengan sekaligus memberikan nama Stasiun Willem I sebagai penghormatan kepada Raja Willem I. Pada bulan yang sama, Gubernur Jenderal juga meresmikan Stasiun Kedungjati, sebuah stasiun strategis yang menghubungkan antara Semarang-Willem I-Solo. Tanggal ini juga menjadi akhir pembangunan jalur konsesi oleh NISM yang menghubungkan antara Semarang-Kedungjati-Gundih-Solo-Yogyakarta dengan cabang Kedungjati-Willem I (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 173).

 

Stasiun Kedungjati pada 1868 (Sumber: “Station Kedoengdjati aan de spoorlijn van Semarang naar de Vorstenlanden”, KITLV 3225).

 

Stasiun Kedungjati yang menjadi menjadi bagian dari Jalur Kereta Api NISM untuk Semarang-Vorstenlanden-Willem I sekitar 1910 (Sumber: “Station Kedoengdjati aan de spoorlijn van Semarang naar de Vorstenlanden”, KITLV 182283).

 

Pada Oktober 1895, NISM mulai mengajukan perluasan jalur sesuai dengan konsesi, yaitu Magelang-Willem I. Bagi NISM, di tengah jalur itu, terdapat wilayah yang strategis, yaitu Secang, yang dapat menghubungkan jalur utama tersebut menuju Temanggung. Pada 1899, pemetaan dilakukan secara serentak. Bahkan, NISM melalui C.W. Hoffman, mengusulkan jalur trem yang membentang dari Secang-Temanggung-Parakan-Kledung-Kretek-Wonosobo (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 285-286). Namun, persoalan muncul, karena jalur kereta api ini melalui pegunungan dengan kontur yang terjal dan topografi yang sukar untuk ditaklukkan. Agar laju kereta api dapat terkendali, dibuatlah sistem rel gigi. Jalur ini menghubungkan kawasan strategis militer Hindia-Belanda di Kota Magelang dengan Benteng Willem I di Ambarawa. Hal ini bertujuan untuk mempermudah mobilitas tentara KNIL di kawasan tersebut. Pada 1 Januari 1905, NISM mengumumkan bahwa jalur Yogyakarta-Magelang-Secang-Willem I dibuka dan dapat digunakan untuk umum (Marihandono, Juwono, Budi, Iswari 2018: 298). Stasiun ini menjadi pertemuan jalur NIS yang menggunakan lebar sepur 1.435 mm (arah Kedungjati) dengan jalur dengan sepur 1.067 mm (arah Secang). Sejak Juni 1942, jalur kereta api Kedungjati-Willem I dan Semarang Tawang-Solo Balapan-Yogyakarta yang semula menggunakan sepur 1.435 mm, akhirnya diubah menjadi 1.067 mm (Tim Telaga Bakti Nusantara 1997).

Jalur kereta api ini menjadi jalur utama pada masa revolusi fisik pada 1945-1949, masa Orde Lama, hingga Orde Baru. Namun, pada 1972, Gunung Merapi meletus dan banjir lahar menutupi jalur tersebut. Akibatnya, jalur kereta api Yogyakarta-Magelang-Secang resmi ditutup pada 1975 (https://tekno.republika.co.id/berita/ 144806/inilah-letusanletusan-merapi-terheboh-dalam-sejarah), karena kereta-kereta api tidak bisa bergerak ke arah Magelang. Selain itu, sejak 1970-an, lokomotif-lokomotif uap mulai tidak digunakan karena faktor usia. Banyak dari lokomotif tersebut yang dipindahtangankan, atau bahkan dijadikan barang rongsokan. Karena prihatin dengan hal tersebut, maka pada 8 April 1976, Gubernur Jawa Tengah, Soepardjo Rustam, beserta Kepala Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) Eksploitasi Tengah, Soeharso, memutuskan untuk membuka sebuah museum kereta api yang nantinya akan mengoleksi barang-barang antik era lokomotif uap (https://kaiwisata.id/ Museum-Ambarawa).

Pemilihan Stasiun Willem I sebagai lokasi museum akhirnya disepakati oleh Komisi D DPRD Jawa Tengah pada 6 Oktober 1976. Pada 21 April 1978, museum ini mulai dibuka dan mulai menyelenggarakan angkutan kereta api wisata uap. Rutenya adalah Ambarawa-Tuntang-Ambarawa dan Ambarawa-Bedono-Ambarawa. Untuk menunjang operasi, Stasiun Tuntang, Jambu, dan Bedono tetap dipertahankan. Untuk segmen Kedungjati-Tuntang saat ini telah menjalani proses reaktivasi, namun saat ini proyeknya tersendat lantaran masalah pembebasan lahan. Dalam reaktivasi ini, direncanakan jumlah perlintasan sebidangnya akan dikurangi dan saat ini belum ada proses. Untuk mendukung reaktivasi, bangunan Stasiun Bringin, Gogodalem, dan Tempuran harus dirombak (https://museum.kemdikbud.go.id/museum/profile/museum+kereta+api+ambarawa).

Koleksi utama Museum Kereta Api Ambarawa adalah beberapa lokomotif uap adalah dua unit kelas B25 (Esslingen 0-4-2RT) yaitu B2502 dan B2503 (dua dari tiga unit lokomotif yang tersisa; lokomotif ketiga, B2501 dimonumenkan di Monumen Palagan Ambarawa). Dahulu, terdapat lokomotif uap kelas E10 (Esslingen 0-10-0RT), bernomor E1060 yang semula dikirimkan ke Sumatera Barat pada 1960 untuk menarik kereta api batu bara, tetapi kemudian dibawa ke Jawa, dan sebuah lokomotif konvensional 2-6-0T C1218 yang dihidupkan kembali pada 2006 setelah lama disimpan di Cepu, kemudian direlokasi ke Ambarawa pada 2002. Namun, lokomotif E1060 dipulangkan kembali ke Sawahlunto sedangkan lokomotif C1218 dibawa ke Surakarta yang kemudian dijadikan kereta wisata Jaladara. Museum Kereta Api Ambarawa mendapat tambahan lokomotif diesel hidraulis D 300 23 yang berasal dari depo lokomotif Cepu yang dipindah ke depo lokomotif Ambarawa pada 6 Oktober 2010. Lokomotif uap B 5112 yang buatan pabrik Hanomag, telah berhasil dihidupkan kembali sejak Januari 2014.

Pada masa kini, Museum Ambarawa telah dibangun dan dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang dapat melengkapi kebutuhan wisatawan. Sebagai contoh adalah tempat parkir yang luas dan dapat menampung mobil-mobil besar, termasuk bus pariwisata. Pengunjung juga dapat memesan tiket melalui aplikasi atau secara langsung membeli di bagian resepsionis. Tiket yang didapatkan berupa barcode untuk membuka palang pintu. Setelah masuk, pengunjung disuguhi dengan foto-foto yang merupakan perkembangan Stasiun Ambarawa dan beberapa stasiun yang terhubung sejak masa kolonial hingga masa kemerdekaan. Museum Ambarawa memiliki koleksi baru seperti kereta inspeksi Sultan Madura, kereta kayu dari Kebonpolo, Magelang, NR kayu dari Balai Yasa Yogyakarta, gerbong GR dari Balai Yasa Manggarai, serta lokomotif diesel CC 200 15 dan lokomotif DD5512, yang dahulu berbasis di Stasiun Cirebon dan Stasiun Jatibarang. Ada pula satu unit lokomotif BB200. Lokomotif-lokomotif diesel tersebut sebagian telah dipindah ke Stasiun Tuntang. Koleksi lainnya adalah halte (Cicayur dan Cikoya serta beberapa halte kayu di jalur kereta api Purwosari-Wonogiri), persinyalan mekanik, pencetakan tiket, peralatan administrasi, serta atribut perusahaan dari era SS dan NIS hingga PJKA. Menuju bangunan utama museum, pengunjung dapat menyaksikan beberapa koleksi lokomotif asli bertuliskan C 1801.

 

Pintu Tiket Museum Ambarawa dan lahan parkir yang luas (Sumber: Dokumentasi Peneliti, Desember 2024)

Lokomotif C1801, salah satu koleksi Museum Kereta Api Ambarawa (Sumber: Dokumentasi Peneliti, Desember 2024)

 

Adapun bangunan utama Museum yang merupakan bekas Stasiun Ambarawa masih terlihat keasliannya. Meskipun di sekitarnya terdapat para pedagang mulai dari makanan hingga souvenir dan juga telah dilakukan pemugaran untuk pemeliharaan, namun masih terdapat ornamen-ornamen khas bernuansa kolonial. Selain itu, penataan ruangannya juga tampak tidak diubah. Untuk menunjang kepariwisataan, PT KAI menyelenggarakan suatu angkutan kereta api wisata yang terdiri atas dua layanan, yaitu kereta wisata Ambarawa-Bedono-Ambarawa dan Ambarawa-Tuntang-Ambarawa. Perjalanannya hanya dilakukan secara reguler pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional; untuk hari lain hanya bisa dilakukan dengan sistem sewa. Kereta wisata Ambarawa-Bedono merupakan kereta api yang menggunakan rel gigi. Pihak museum menyebut layanan ini sebagai Ambarawa Mountain Railway Tour. Rutenya adalah Ambarawa-Jambu-Bedono dan kembali ke Ambarawa. Perjalanan ke Bedono hanya bisa dilakukan oleh lokomotif uap bergigi (B25) karena tidak ada satu pun lokomotif diesel yang dipasangi roda gigi. Selain itu, reservasi tiket kereta api uap hanya bisa dipesan melalui sistem sewa. Akibatnya, Stasiun Bedono dan Jambu hanya dibuka pada saat ada perjalanan kereta api tersebut. Adapun layanan kereta api wisata yang paling banyak diminati oleh pengunjung adalah kereta api wisata jalur Ambarawa-Tuntang-Ambarawa. Alasan mengapa layanan tersebut ramai adalah karena dapat dinikmati oleh siapa pun dengan harga yang cukup terjangkau. Masyarakat dapat merasakan wisata masa lalu melalui kereta peninggalan Belanda hanya dengan membayar Rp100.000,00 per orang. Dalam satu gerbong dapat diisi oleh 80 orang.

 

Kereta Api Wisata Ambarawa-Tuntang-Ambarawa

(Sumber: Dokumentasi Peneliti, Desember 2024)

 

Identitas Kereta Api Wisata di Museum Kereta Api Ambarawa

(Sumber: Dokumentasi Peneliti, Desember 2024)

 

Selama perjalanan, para wisatawan dimanjakan dengan pemandangan yang indah sepanjang Ambarawa hingga Stasiun Tuntang, antara lain melewati underpass Jalan Raya Semarang dan berada di pinggir Kali Tuntang, rel di pinggir Rawa Pening, dan hamparan persawahan. Tujuan akhir sebelum kembali ke Museum Kereta Api Ambarawa adalah Stasiun Tuntang. Para wisatawan disilakan turun dan menikmati keindahan bangunan Stasiun Tuntang selama 10 menit.

 

Para wisatawan disambut oleh tarian tradisional di Stasiun Tuntang

(Sumber: Dokumentasi Peneliti, 2024)

 

Selama di Stasiun Tuntang, para wisatawan disambut oleh para pedagang yang menjajakan mulai dari souvenir hingga makanan tradisional. Makanan yang dijual antara lain bubur sumsum, serabi, sayur buntil, kacang rebus, dan jamu-jamuan, seperti beras kencur. Selain itu, para wisatawan juga dimanjakan dengan pertunjukan tari yang diperagakan oleh komunitas seni setempat. Pertunjukan tari biasanya ditampilkan ketika jumlah pengunjung banyak.

 

Pertunjukan tari untuk menyambut wisatawan dari Stasiun Ambarawa

(Sumber: Dokumentasi Peneliti, Desember 2024)

 

Menurut informasi dari pengelola, jumlah pengunjung Museum Ambarawa mencapai 1.000 pada hari libur biasa dan bertambah menjadi 1.500 pada libur panjang sekolah. Sementara itu, kereta api wisata dijalankan secara reguler menggunakan lokomotif diesel, tetapi dapat disewakan baik dengan lokomotif uap maupun lokomotif diesel. Untuk perjalanan reguler terdapat jadwal kereta api yang berangkat pada pukul 10.00, 12.00, dan 14.00.